Tuesday, June 30, 2009

Mata Ibuku

Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga.

Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian. Keesokan harinya di sekolah “Ibumu hanya punya satu mata?!?!” Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, “Bu, mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!” Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu... Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, suatu ketika ... Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, “Siapa kamu?! Aku tak mengenal dirimu!!” Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, “Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !” “KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!” Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega.

Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana . Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah... Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak dilantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku. “Anakku... Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan... aku tidak akan pergi ke Singapura lagi... Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau... dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku... Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena aku mencintaimu” Anakku! Oh, anakku!”

Pesan ini memiliki arti yang mendalam dan disebarkan agar orang ingat bahwa kebaikan yang mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. Berhentilah sejenak dan renungi hidup Anda! Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk membahagiakan ibu Anda!

Monday, June 29, 2009

Hadiah Dari Ayah

Seorang pemuda sebentar lagi akan di-wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payah-nya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.

Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobilsport, Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya.

Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya. Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya.

Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu.
Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci!

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.
Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak,
"Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku?"

Lalu dia membanting Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.
Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang.

Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu.

Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.

Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelek terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.

Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Alkitab itu dan mulai membuka halamannya.
Di halaman pertama Alkitab itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya,
"Dan kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, bagaimana Bapa-mu yang di sorga akan memberikan apa yang kamu minta kepada-Nya?"

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alkitab itu. Dia memungutnya, ...
sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu.
Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati........

Sunday, June 28, 2009

Wujud Cinta Seorang Suami

Kami berkenalan lima tahun yang lalu pada acara pernikahan seorang teman lamaku. Sejak saat itu kami berpacaran hingga dua tahun lalu kami memutuskan untuk menikah. Waktu berjalan terus usia pernikahan kami genap tiga tahun di mana aku mulai merasakan suatu perasaan yang sangat berbeda di dalam diriku. Dulu, setiap kali aku duduk berdekatan dengannya, aku merasakan kehangatan dan rasa aman yang begitu menyenangkan. Tetapi kini, entah bagaimana perasaan itu menghilang begitu saja.

Aku adalah wanita yang sangat sensitive, sentimental dan berperasaan halus. Seperti seorang anak yang menginginkan coklat, aku selalu mendambakan suasana romantis setiap saat, tetapi aku tidak mendapatkan itu dari suamiku. Dia adalah laki-laki yang kurang peka terhadap apa yang aku rasakan dan harapkan darinya. Karena ketidakmampuannya menciptakan suasana romantis inilah, harapan-harapanku tentang kehidupan berumah tangga yang sangat menyenangkan hilang begitu saja.

Entah dari mana datangnya keberanian dan kenekatanku, hari itu aku minta cerai kepada suamiku. “Mengapa?” Tanya suamiku dengan sangat terkejut. ”Aku tidak mendapatkan apa yang aku harapkan darimu, kau tidak pernah mengerti perasaanku,” jawabku sambil menangis. Keputusan itu telah membuat suamiku tidak bisa berkonsentrasi sepanjang hari. Pada malam hari aku melihatnya termenung di meja kerjanya dan lagi-lagi aku menilainya sebagai laki-laki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya. Sikapnya yang suka diam membisu membuatku semakin menolaknya. Akhirnya pertanyaan keluar juga dari mulutnya, “Apa yang harus aku lakukan untuk mengubah keputusanmu?”, “Seandainya aku menginginkan setangkai bunga yang tumbuh di tebing gunung dan kita tahu bahwa setiap orang yang berusaha mendapatkan bunga tersebut pasti akan mati, apakah kau akan bersedia mengambilnya untukku?” kataku. Suamiku berjanji memberikan jawaban besok.

Pagi itu aku bangun kesiangan dan aku tidak melihat suamiku pergi kerja. Hanya ada segelas susu hangat di atas meja beserta selembar kertas berisi tulisan tangannya di letakkan di bawah gelas. “Istriku tersayang, kamu seringkali menggerutu ketika alergi kulitmu kumat dan aku harus memberikan kuku-kukuku untuk menggaruk punggungmu. Kamu seringkali nyasar ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan yang baru dan aku harus memberikan kakiku untuk berjalan mencarimu. Kamu selalu mengeluh karena pegal-pegal setiap kali habis jalan-jalan dan aku harus memberikan tanganku untuk memijat kakimu. Kamu selalu kesepian di rumah saat aku bekerja dan ketika pulang aku memberikan lidahku untuk berbagi cerita serta menghiburmu. Kamu selalu membaca sambil tiduran sehingga matamu menjadi rusak, tetapi aku harus memelihara mataku agar ketika kita tua nanti aku masih bisa menuntunmu ke kamar mandi. Tetapi, untuk mengambil bunga itu aku tidak sanggup, karena itu artinya aku harus mati. Sayangku, aku tidak mampu melihatmu menangis karena kematianku. Untuk itu, jika semua yang sudah aku berikan tidaklah cukup bagimu, aku tidak akan pernah melarangmu untuk mencari laki-laki lain yang dapat membahagiakanmu. Kau sudah tahu jawabanku dan jika kau puas dengan jawabanku itu dan tetap mengharapkan aku tinggal bersamamu, bukakanlah pintu untukku, aku menunggumu di depan pintu. Tetapi kalau kau tidak puas, kuncilah pintu dan biarkan aku pergi meninggalkanmu. Percayalah, kebahagianmu adalah kebahagianku juga.”

Dengan air mata berlinang aku berlari membuka pintu dan aku melihat suamiku di sana sambil memegang roti kesukaanku. Aku sadar bahwa tidak ada orang yang lebih mencintaiku lebih dari suamiku. Yang aku butuhkan hanyalah memahami wujud cinta dari suamiku dan bukan mengharapkan wujud tertentu yang ada di benakku, karena cinta tidak selalu berwujud bunga nan semerbak, tetapi juga dapat berwujud pengorbanan yang memedihkan.