Kami berkenalan lima tahun yang lalu pada acara pernikahan seorang teman lamaku. Sejak saat itu kami berpacaran hingga dua tahun lalu kami memutuskan untuk menikah. Waktu berjalan terus usia pernikahan kami genap tiga tahun di mana aku mulai merasakan suatu perasaan yang sangat berbeda di dalam diriku. Dulu, setiap kali aku duduk berdekatan dengannya, aku merasakan kehangatan dan rasa aman yang begitu menyenangkan. Tetapi kini, entah bagaimana perasaan itu menghilang begitu saja.Aku adalah wanita yang sangat sensitive, sentimental dan berperasaan halus. Seperti seorang anak yang menginginkan coklat, aku selalu mendambakan suasana romantis setiap saat, tetapi aku tidak mendapatkan itu dari suamiku. Dia adalah laki-laki yang kurang peka terhadap apa yang aku rasakan dan harapkan darinya. Karena ketidakmampuannya menciptakan suasana romantis inilah, harapan-harapanku tentang kehidupan berumah tangga yang sangat menyenangkan hilang begitu saja.
Entah dari mana datangnya keberanian dan kenekatanku, hari itu aku minta cerai kepada suamiku. “Mengapa?” Tanya suamiku dengan sangat terkejut. ”Aku tidak mendapatkan apa yang aku harapkan darimu, kau tidak pernah mengerti perasaanku,” jawabku sambil menangis. Keputusan itu telah membuat suamiku tidak bisa berkonsentrasi sepanjang hari. Pada malam hari aku melihatnya termenung di meja kerjanya dan lagi-lagi aku menilainya sebagai laki-laki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya. Sikapnya yang suka diam membisu membuatku semakin menolaknya. Akhirnya pertanyaan keluar juga dari mulutnya, “Apa yang harus aku lakukan untuk mengubah keputusanmu?”, “Seandainya aku menginginkan setangkai bunga yang tumbuh di tebing gunung dan kita tahu bahwa setiap orang yang berusaha mendapatkan bunga tersebut pasti akan mati, apakah kau akan bersedia mengambilnya untukku?” kataku. Suamiku berjanji memberikan jawaban besok.
Pagi itu aku bangun kesiangan dan aku tidak melihat suamiku pergi kerja. Hanya ada segelas susu hangat di atas meja beserta selembar kertas berisi tulisan tangannya di letakkan di bawah gelas. “Istriku tersayang, kamu seringkali menggerutu ketika alergi kulitmu kumat dan aku harus memberikan kuku-kukuku untuk menggaruk punggungmu. Kamu seringkali nyasar ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan yang baru dan aku harus memberikan kakiku untuk berjalan mencarimu. Kamu selalu mengeluh karena pegal-pegal setiap kali habis jalan-jalan dan aku harus memberikan tanganku untuk memijat kakimu. Kamu selalu kesepian di rumah saat aku bekerja dan ketika pulang aku memberikan lidahku untuk berbagi cerita serta menghiburmu. Kamu selalu membaca sambil tiduran sehingga matamu menjadi rusak, tetapi aku harus memelihara mataku agar ketika kita tua nanti aku masih bisa menuntunmu ke kamar mandi. Tetapi, untuk mengambil bunga itu aku tidak sanggup, karena itu artinya aku harus mati. Sayangku, aku tidak mampu melihatmu menangis karena kematianku. Untuk itu, jika semua yang sudah aku berikan tidaklah cukup bagimu, aku tidak akan pernah melarangmu untuk mencari laki-laki lain yang dapat membahagiakanmu. Kau sudah tahu jawabanku dan jika kau puas dengan jawabanku itu dan tetap mengharapkan aku tinggal bersamamu, bukakanlah pintu untukku, aku menunggumu di depan pintu. Tetapi kalau kau tidak puas, kuncilah pintu dan biarkan aku pergi meninggalkanmu. Percayalah, kebahagianmu adalah kebahagianku juga.”
Dengan air mata berlinang aku berlari membuka pintu dan aku melihat suamiku di sana sambil memegang roti kesukaanku. Aku sadar bahwa tidak ada orang yang lebih mencintaiku lebih dari suamiku. Yang aku butuhkan hanyalah memahami wujud cinta dari suamiku dan bukan mengharapkan wujud tertentu yang ada di benakku, karena cinta tidak selalu berwujud bunga nan semerbak, tetapi juga dapat berwujud pengorbanan yang memedihkan.

