Friday, October 31, 2008

Kalung Mutiara

Jenny, seorang gadis kecil berumur lima tahun, pergi ke sebuah toko bersama ibunya. Ia melihat sebuah kalung mutiara dalam kotak merah jambu. "Ma, bolehkah saya memilikinya? Ayo ma, ayo." Ibunya melihat ke label harganya, $10. Ia mengatakan agar Jenny mau bersabar sedikit karena seminggu lagi ia akan berulang tahun. Mungkin nenek akan memberikan beberapa dolar untuknya hingga ia mempunyai uang cukup untuk membeli kalung mutiara itu. Selain itu Jenny juga harus menabung dari uang jajannya.

Ketika Jenny sampai di rumah ia membuka tabungannya, ternyata ia memiliki beberapa dolar. Setelah makan ia memetik beberapa bunga di halamannya dan pergi ke tetangganya. Ia bertanya apakah ibu tetangga itu mau membeli bungany dengan harga $1. Ibu itu mau. Pada hari ulang tahunnya neneknya memberikan $5 padanya. Kini ia mempunyai uang cukup untuk membeli kalung yang diidamkannya itu.

Jenny sangat menyayangi kalungnya itu. Ia mengenakannya kemana pun ia pergi, ke taman kanak-kanak, bahkan ketika ia tidur. Ia melepaskannya hanya ketika ia berenang atau mandi. Ibu mengatakan kalau terkena air mungkin warnanya akan berubah.
Jenny mempunyai ayah yang sangat menyayanginya. Setiap malam, sebelum ia tidur, ayahnya selalu membacakan cerita-cerita untuknya. Pada suatu malam setelah ia selesai membacakan sebuah cerita, ia bertanya pada Jenny, "Apakah kamu mencintai papa?"
"Tentu saja pa, papa tahu Jenny sayang papa."
"Kalau begitu, boleh papa minta kalung kamu?" "O... pa, jangan kalung ini. Boneka ini saja untuk papa."
"Ok, sayang. Papa sayang kamu. Selamat malam." Iapun mencium pipi Jenny.

Kira-kira seminggu kemudian, setelah membacakan sebuah cerita, kembali ayah Jenny bertanya, "Apa kamu mencintai papa?"
"Pa, papa tahu Jenny mencintai papa." "Kalau begitu papa ingin kalung kamu."
"Pa, jangan kalung ini. Jenny punya mainan bebek-bebekan, ini saja untuk papa."
"Tidak apa. Tidurlah dengan nyenyak. Tuhan memberkati kamu. Papa sayang kamu."
Dan seperti biasa ia mencium pipi Jenny.

Beberapa malam berikutnya, Jenny duduk di tempat tidurnya. Ketika ayahnya masuk ke kamarnya, ia melihat dagu Jenny bergetar dan air mata membasahi pipinya.
"Ada apa Jenny? Apa yang terjadi?"
Jenny tidak mengatakan apa-apa tetapi ia mengangkat tangannya yang tergenggam pada ayahnya. Ia membuka genggamannya, di situ ada kalung mutiara kesayangannya. Dengan sedikit terbata-bata, ia berkata: "Pa, ini untuk papa."
Dengan air mata tergenang, ayah Jenny memasukkan kalung mutiara imitasi itu ke sakunya, "Terima kasih sayang". Kemudian ia meraih saku yang satu lagi dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna biru yang berisi kalung mutiara asli dan memberikannya pada Jenny.
Ayahnya selalu membawa kotak itu. Ia hanya menunggu sampai Jenny mau memberikan kalung imitasinya untuk diganti dengan harta yang sesungguhnya...

1000 Burung Kertas

Sewaktu Tonny dan Tina baru pacaran, Tonny melipat 1000 burung kertas buat Tina, menggantungkannya di dalam kamar Tina.
Tonny mengatakan 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.
Waktu itu...
Tina dan Tonny setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua...
Tetapi pada suatu saat, Tina mulai menjauhi Tonny.

Tina memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis...
Ke Paris...Tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali2 itu...
Sewaktu Tina mau memutuskan Tonny, Tina bilang sama Tonny,

kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa...
Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya...
Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik.
Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah...!!

Setelah Tina pergi ke Perancis, Tonny bekerja keras...
dia pernah menjual koran...
menjadi karyawan sementara...
bisnis kecil...
setiap pekerjaan dikerjakan dengan sangat baik dan tekun.
Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya,
akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan.
Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Tina, dia masih tidak dapat melupakannya.

Pada suatu hari... waktu hujan,
Tonny dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan.
Dia mengenali mereka, mereka adalah orang-tua Tina....
Dia ingin mereka lihat kalau sekarang Tonny tidak hanya mempunyai mobil pribadi,
tetapi juga mempunyai villa dan perusahaan sendiri, ia ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang Boss.

Tonny mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang-tua tersebut.
Hujan terus turun tanpa henti, biarpun kedua orang-tua itu memakai payung,
tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.

Sewaktu mereka sampai tempat tujuan,
Tonny tercegang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat pemakaman.

Dia melihat di atas papan nisan Tina tersenyum sangat manis terhadapnya.
Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung2 kertas yang dibuatkan Tonny.
Dalam hujan, burung2 kertas itu terlihat begitu hidup,
Orang-tua Tina memberitahu Tonny,
Tina tidak pergi ke Paris ,
Tina terserang kanker,
Tina pergi ke surga.
Tina ingin Tonny menjadi orang,
mempunyai keluarga yang harmonis,
maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Tonny dulu.
Tina bilang dia sangat mengerti Tonny,
dia percaya kalau Tonny pasti akan berhasil.
Tina mengatakan...
kalau pada suatu hari Tonny akan datang ke makamnya dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi.
Tonny langsung berlutut, berlutut di depan makam Tina, menangis dengan begitu sedihnya.
Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti,
membasahi sekujur tubuh Tonny.
Tonny teringat senyum manis Tina yang begitu manis dan polos,

Mengingat semua itu,
hatinya mulai meneteskan darah...
Sewaktu orang-tua itu keluar dari pemakaman,
mereka melihat kalau Tonny sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.
Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.

"Hatiku tidak pernah menyesal, semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas, 1000 ketulusan hatiku, beterbangan di dalam angin
menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit...
melewati sungai perak,
apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap...
hilang dan tak kan kembali...
menambah kerinduan di hatiku...
Bagaimanapun dicari,
jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.."

Itu Bagus!

Ada seorang raja di Afrika yang mempunyai seorang teman yang dibesarkan bersama dia. Teman raja itu mempunyai kebiasaan apapun yang terjadi dalam hidupnya, baik atau buruk, ia selalu berkomentar, "Itu Bagus!"

Pada suatu hari raja dan temannya itu pergi berburu. Temannya itu diberi tugas untuk menyiapkan senjata yang dipakai raja. Tampaknya teman raja itu melakukan suatu kesalahan ketika menyiapkan sebuah senjata. Setelah raja mengambil senjata itu, ia menembak dan ibu jarinya putus. Melihat kejadian itu, teman raja itu seperti biasa berkomentar, "Itu Bagus!"
Raja berteriak, "Tidak, ini TIDAK BAGUS!" dan raja itu mengirimkan temannya itu ke penjara.

Setahun kemudian, raja berburu di suatu hutan yang seharusnya ia tahu bahwa daerah itu tidak aman. Ia ditangkap oleh suku banibal dan membawa raja itu ke desa mereka. Mereka mengikat raja itu dan menimbun kayu-kayu kering untuk membakar raja itu.

Ketika mereka akan menyulukan api, mereka melihat salah satu ibu jari raja itu tak ada. Dalam kepercayaan suku tersebut, mereka tidak boleh memakan seorang yang tidak sempurna tubuhnya. Maka mereka melepaskan raja itu.

Ketika raja kembali ke istananya, ia teringat peristiwa yang menyebabkan ibu jarinya putus dan ia menyesali perlakuannya terhadap temannya. Ia segera pergi ke penjara untuk berbicara dengan temannya itu.

"Anda benar", kata raja "adalah bagus bahwa ibu jariku putus." Lalu ia menceritakan pengalamannya pada temannya itu. "Dan aku sangat menyesal telah memenjarakan Anda sedemikian lama. Sungguh buruk perlakuanku itu."

"Tidak", jawab teman raja itu, "Itu Bagus!"
"Apa maksud Anda dengan "Itu Bagus?" Bagaimana bisa bagus bahwa aku telah memenjarakan temanku selama setahun?
"Andaikan aku tidak berada di penjara, aku tentu bersama Anda!"

Telaga Hati

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.
Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya", ujar pak tua.
"Pahit, pahit sekali", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak pemuda itu berjalan ke tepi telaga di belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu. Sesampai di sana, pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda mereguk air itu, pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar", sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?" tanya pak tua.
"Tidak", sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempak kita meletakannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang kamu dapat lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:
"Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempatmu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian."

Cerita Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah lembek. "Anakku", kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, Bangsa Kerang, sebuah tangan pun sehingga ibu tidak bisa menolongmu."
Si ibu terdiam sejenak, "Aku tahu sakit Anakku, tapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu, jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu, hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat ibunya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang ditengah kesakitannya ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus, rasa sakitnya pun berkurang dan semakin lama mutiaranya semakin besar, rasa sakitnya menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya setelah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai "Kerang Rebus" di pinggir jalan.

***

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah Lorong Transcendental untuk menjadikan "Kerang Biasa" menjadi "Kerang Luar Biasa", karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "Orang Biasa" menjadi "Orang Luar Biasa"

Banyak orang mundur saat berada di Lorong Transcendental karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi "Kerang Biasa" yang disantap orang atau menjadi "Kerang yang menghasilkan Mutiara".

Sayangnya lebih banyak orang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang "Biasa-biasa Saja".
Mungkin saja saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang disekitar kita, cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan dilorong tersebut, dan sambil katakan dalam hatimu...
"Air mataku diperhitungkan Tuhan... dan Penderitaanku ini akan mengubah diriku
menjadi Mutiara yang sangat berharga".

Lentera Di Tengah Salju

Alkisah ada seorang tuan tanah yang kaya raya. Tuan tanah ini memiliki seorang hamba yang sangat setia kepadanya. Hamba ini sangat miskin dan hidup pas-pasan. Musim berganti musim, ia melayani tuan tanah itu dengan baik.

Pada suatu musim salju, tuan tanah itu memanggil hambanya dan berkata, "Aku akan memberikan setengah dari kekayaanku jika kamu dapat tahan duduk telanjang di tengah salju semalaman." Mendengar perkataan itu terlalu berat untuk dilakukan. Lalu, ia meminta waktu untuk memikirkan hal itu.

Tanpa sepengetahuan tuannya, hamba tersebut pergi menemui orang tua yang bijaksana di daerah tersebut untuk meminta nasehat. Setelah mengetahui permasalahannya, orang tua itu berkata, "Aku akan meletakkan sebuah lentera di tengah salju tidak jauh dari tempatmu duduk. Pusatkan pandangan dan perhatianmu pada api lentera itu sampai kehangatan api itu dapat kamu rasakan."

Pada malam yang ditetapkan, hamba itu membuka seluruh pakaiannya dan duduk dalam keadaan telanjang di tengah salju. Udara yang begitu dingin menusuk sampai ke sum-sum tulang. Tetapi, dengan sekuat tenaga hamba itu mencoba untuk bertahan. Lalu, sesuai dengan perkataan orang tua yang bijaksana, hamba tersebut memusatkan perhatian pada api lentera yang sengaja diletakkan oleh orang tua itu.

Ia terus memandangi api lentera sampai api itu memenuhi pikirannya dan ia merasakkan kehangatan. Akhirnya dengan memusatkan pandangan dan perhatian pada api lentera itu, ia dapat tahan duduk di salju sampai pagi. Dan sesuai janjinya, tuan tanah memberikan setengah harta kekayaannya kepada hamba tersebut.