Alkisah ada seorang tuan tanah yang kaya raya. Tuan tanah ini memiliki seorang hamba yang sangat setia kepadanya. Hamba ini sangat miskin dan hidup pas-pasan. Musim berganti musim, ia melayani tuan tanah itu dengan baik.
Pada suatu musim salju, tuan tanah itu memanggil hambanya dan berkata, "Aku akan memberikan setengah dari kekayaanku jika kamu dapat tahan duduk telanjang di tengah salju semalaman." Mendengar perkataan itu terlalu berat untuk dilakukan. Lalu, ia meminta waktu untuk memikirkan hal itu.
Tanpa sepengetahuan tuannya, hamba tersebut pergi menemui orang tua yang bijaksana di daerah tersebut untuk meminta nasehat. Setelah mengetahui permasalahannya, orang tua itu berkata, "Aku akan meletakkan sebuah lentera di tengah salju tidak jauh dari tempatmu duduk. Pusatkan pandangan dan perhatianmu pada api lentera itu sampai kehangatan api itu dapat kamu rasakan."
Pada malam yang ditetapkan, hamba itu membuka seluruh pakaiannya dan duduk dalam keadaan telanjang di tengah salju. Udara yang begitu dingin menusuk sampai ke sum-sum tulang. Tetapi, dengan sekuat tenaga hamba itu mencoba untuk bertahan. Lalu, sesuai dengan perkataan orang tua yang bijaksana, hamba tersebut memusatkan perhatian pada api lentera yang sengaja diletakkan oleh orang tua itu.
Ia terus memandangi api lentera sampai api itu memenuhi pikirannya dan ia merasakkan kehangatan. Akhirnya dengan memusatkan pandangan dan perhatian pada api lentera itu, ia dapat tahan duduk di salju sampai pagi. Dan sesuai janjinya, tuan tanah memberikan setengah harta kekayaannya kepada hamba tersebut.

