Friday, October 31, 2008

Cerita Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah lembek. "Anakku", kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, Bangsa Kerang, sebuah tangan pun sehingga ibu tidak bisa menolongmu."
Si ibu terdiam sejenak, "Aku tahu sakit Anakku, tapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu, jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu, hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat ibunya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang ditengah kesakitannya ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus, rasa sakitnya pun berkurang dan semakin lama mutiaranya semakin besar, rasa sakitnya menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya setelah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai "Kerang Rebus" di pinggir jalan.

***

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah Lorong Transcendental untuk menjadikan "Kerang Biasa" menjadi "Kerang Luar Biasa", karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "Orang Biasa" menjadi "Orang Luar Biasa"

Banyak orang mundur saat berada di Lorong Transcendental karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi "Kerang Biasa" yang disantap orang atau menjadi "Kerang yang menghasilkan Mutiara".

Sayangnya lebih banyak orang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang "Biasa-biasa Saja".
Mungkin saja saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang disekitar kita, cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan dilorong tersebut, dan sambil katakan dalam hatimu...
"Air mataku diperhitungkan Tuhan... dan Penderitaanku ini akan mengubah diriku
menjadi Mutiara yang sangat berharga".